"sampaikanlah walau hanya satu ayat"

Rabu, 22 Juni 2011

Ruh Amal Adalah Ikhlas


eramuslim - Perputaran waktu yang terjadi sungguh sangat cepat. Belum lama kita menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.
Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan. 
Sepertiga pertamanya rahmah demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan barakah ini.
Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan Dengan menyebut asma Allah yang Rahman dan yang Rahim. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang mukmin,Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rahmah yang menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al asma al husna.
Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya.
Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersama-sama muhasabah.
Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.
Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita.
Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan?
Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang di langit dan malaikat pun akan menyayangi kita. Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi. Bila kita tak pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani mengemis cinta-Nya. Sungguh, sangat malu.
Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayat-ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.
Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?
Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang berputus asa. Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam kesibukan.(QS.55:29)
Allah Maha Mengetahui. Meski setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri.
Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang didhalimi. Mendengar kepanikan mereka yang dikejar-kejar kedhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah..Disamping itu Dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya.
Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janji-Nya, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)
Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah?
Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.
Dan tengahnya adalah maghfirah demikian Rasulullah Saw. menyambung keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah.
Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikan-Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hari-Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13)
Al Muhandis

PERSIMPANGAN CINTA


eramuslim - Perputaran waktu yang terjadi sungguh sangat cepat. Belum lama kita menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.
Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan. 
Sepertiga pertamanya rahmah demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan barakah ini.
Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan Dengan menyebut asma Allah yang Rahman dan yang Rahim. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang mukmin,Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rahmah yang menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al asma al husna.
Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya.
Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersama-sama muhasabah.
Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.
Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita.
Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan?
Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang di langit dan malaikat pun akan menyayangi kita. Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi. Bila kita tak pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani mengemis cinta-Nya. Sungguh, sangat malu.
Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayat-ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.
Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?
Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang berputus asa. Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam kesibukan.(QS.55:29)
Allah Maha Mengetahui. Meski setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri.
Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang didhalimi. Mendengar kepanikan mereka yang dikejar-kejar kedhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah..Disamping itu Dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya.
Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janji-Nya, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)
Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah?
Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.
Dan tengahnya adalah maghfirah demikian Rasulullah Saw. menyambung keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah.
Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikan-Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hari-Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13)
Al Muhandis

Selasa, 21 Juni 2011

Zaid bin Tsabit (Sekretaris dan Pencatat Wahyu Rasulullah)


Orangnya masih belia, seumur anak-anak SD sekarang. Tetapi, Allah ternyata memberikan keistimewaan kepadanya. Ia memiliki kecerdasan dan ketajaman berpikir yang luar biasa. Semangat pantang menyerah dan semangat berkorban di jalan Islam tak diragukan lagi lekat kepadanya. Rasulullah memberikan penilaian khusus, dan karenanya termasuk di antara sahabat yang paling disayang Nabi SAW. Siapakah dia? Tak bukan dan tak lain ia adalah Zaid bin Tsabit.

Dilahirkan pada tahun 10 sebelum hijrah, atau 10 tahun lebih muda dari Ali bin Abi Thalib, Zaid dan keluarganya berasal dari kabilah Bani An-Najjar. Keluarganya termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas.

Suatu ketika, Zaid kecil ditolak Rasulullah bergabung dalam keprajuritan karena usianya yang masih belia. Meskipun kecewa, ia tak lantas putus asa. Untuk mengobati kekecewaannya itu, Zaid mencari aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Jalan itu ia temukan, yakni menghafal dan memperdalam Alquran. Kebetulan, Zaid kecil memang diberi anugerah kelebihan dan ketajaman berpikir. Aktivitasnya ini ia utarakan kepada sang ibu, Nuwair binti Malik. Dengan senang hati, sang ibu pun mendukung penuh. Melalui Nuwair, famili yang lain diberitahu perihal kegiatan anaknya itu. Mereka pun setuju.

Kepada Rasulullah, mereka mengatakan, "Wahai Rasulullah, ini anak kami. Dia hafal 17 surat Alquran. Bacaannya betul, sesuai yang diturunkan Allah kepada Anda. Selain itu, dia pandai pula membaca dan menulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang dia miliki, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki silakan dengarkan bacaannya."

Rasulullah pun langsung mendengarkan bacaannya. Benar, ternyata bacaan Zaid sangat bagus dan fasih. Rasulullah gembira lantaran apa yang diucapkan dan didengarnya langsung dari Zaid melebihi dari apa yang dikatakan familinya tersebut. "Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani.

Saya tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut, bila mereka saya diktekan sebagai sekretaris saya," kata Rasulullah. Anak kecil itu pun menyanggupi tawaran Nabi SAW. Dalam waktu sekejab, bahasa Ibrani ia kuasai. Sejak saat itu, Zaid tampil menjadi sekretaris Nabi SAW sekaligus salah satu pencatat wahyu yang diterima Rasulullah.

Bila wahyu turun, sebagaimana dikutip dalam buku 101 Sahabat Nabi, Rasul memanggil Zaid, lalu dibacakan kepadanya dan Zaid disuruh menulis. Zaid menulis ayat-ayat Alquran langsung dari diktean Rasulullah secara bertahap sesuai urut diturunkannya ayat tersebut. Karena itulah, Zaid bukan saja dikenal sebagai penerjemah dan pencatat wahyu Rasul, ia juga dikenal di kalangan para sahabat sebagai tempat umat Islam bertanya ihwal Alquran sesudah Rasulullah wafat. Selain pada masa Abu Bakar, Zaid juga menjadi ketua kelompok penghimpun Alquran masa kekhalifahan ketiga, Utsman bin Affan.

Khalifah Umar bin Khaththab pun mengakui Zaid sebagai tempat rujukan para sahabat tentang Alquran. Dalam satu kesempatan, Umar berkata, "Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak bertanya tentang fikih, temuilah Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya soal harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.''

Berkah keberadaan Zaid tak terbatas pada posisinya sebagai rujukan Alquran. Ia pun sebagai sumber solusi suatu persoalan. Misalnya, suatu ketika umat Islam di Madinah berbeda pendapat ihwal siapa khalifah pengganti Rasulullah. Kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) berkata, "Pihak kami lebih berhak menjadi khalifah." Sementara kaum Anshar (warga asli Madinah) berkata, "Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya."

Perbedaan pendapat hampir saja memicu konflik fisik. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring. Di tengah meruncingnya masalah itulah, Zaid muncul dan berkata kepada kaumnya, orang-orang Anshar, "Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu, sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnyalah pula kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)-nya, sesudah beliau wafat, dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama." Setelah mengatakan hal itu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, seraya berkata, "Inilah Khalifah kalian. Baiatlah kalian dengannya!"n hery s/berbagai sumber

Pelopor Pembukuan Alquran

Di Madinah, ia mempunyai kenangan tersendiri soal kedatangan Rasulullah bersama rombongan. Pada saat menanti kedatangan Rasulullah dan Abu Bakar di Madinah dari Mekkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sering pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang.

Betapa berbunganya hati kaum Muslimin Madinah melihat Rasulullah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada Rasulullah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada Rasulullah untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa.

Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini dapat membantu dan selalu dekat dengan utusan Allah yang ia cintai. Rasulullah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. Rasulullah sangat mencintai sahabat ciliknya. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan Rasulullah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Alquran.

Di samping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima Rasulullah, Zaid juga memperoleh penugasan dari Rasulullah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering digunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai Zaid hanya dalam waktu sangat singkat, 32 hari!

Pada masa Kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Alquran. Abu Bakar Ra memanggilnya dan mengatakan, "Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan Rasulullah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya.

Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Alquran dan membukukannya." Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Alquran: "Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak Rasulullah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini."

Akhirnya setelah melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar Ra dan Umar bin Khaththab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Alquran, di antaranya mengingat banyaknya para hafidz Quran yang syahid. Dalam pertempuran "Harb Riddah" (kaum murtad) yang dipimpin Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Alquran menemui syahid.

Dengan pertimbangan-pertimbangan inilah, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk tim khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Jadilah ketiga persyaratan tersebut:

Pertama, ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit dua orang. Kedua, harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk hardcopy lainnya). Ketiga, untuk yang tertulis, paling tidak harus ada dua orang saksi yang melihat saat dituliskannya. Dengan persyaratan tersebut, Zaid bin Tsabit memulai pekerjaan berat ini dan membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa Kekhalifahan Abu Bakar. [Republika, 29 November 2002]

Zaid bin Haritsah (Budak Pembela Rasul)


Tidak semua peperangan melawan orang-orang kafir atau rezim Romawi saat itu, dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa pertempuran membela agama itu, posisi panglima perang ada kalanya didelegasikan kepada para sahabat. Peperangan Muktah, salah satunya.

Saat Rasulullah akan melepas pasukan Islam ke medan pertempuran Muktah, ia berpesan kepada pasukan Muslim, "Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja'far bin Abi Thalib. Seandainya Ja'far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah bin Rawahah."

Siapa sejatinya Zaid bin Haritsah? Para pakar sejarah melukiskan sosok ini sebagai pria dengan perawakan biasa, pendek, kulitnya coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Soal kapan dan di mana dia lahir, tak ada bukti pasti maupun catatan sejarah yang menegaskan hal itu. Goresan sejarah yang pasti adalah, Zaid termasuk salah seorang pahlawan agung Islam yang kesetiaan dan pembelaannya terhadap Rasulullah tidak diragukan lagi.

Zaid kecil sesungguhnya tak lepas dari kisah pedih dan penderitaan keluarganya. Ia misalnya diketahui, sejak kecil sudah harus berpisah dengan ibunya, Su'da, yang dititipkan oleh ayahnya, Haritsah, ziarah ke sanak familinya di kampung Bani Maan. Su'da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah, ketika suaminya hendak menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat. Kafilah berangkat meninggalkan kampung itu, dan Haritsah pun mengucapkan selamat jalan kepada isteri dan anaknya.

Sesampai di tempat tujuan, beberapa waktu kemudian terjadilah musibah yang menimpa penduduk kampung Bani Maan. Kampung itu habis porak-poranda diserang oleh gerombolan perampok Badui. Semua barang berharga milik penduduk kampung dikuras habis, penduduknya ditawan dan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.

Ketika kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan berhasil dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan rampokannya. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam. Di kemudian hari, ia memberikannya kepada saudara tua perempuannya, Siti Khadijah. Ketika itu, Khadijah Ra telah menjadi isteri Muhammad bin Abdullah (sebelum diangkat menjadi Rasul oleh Allah SWT).

Khadijah kemudian memberikan khadamnya, Zaid, sebagai pelayan bagi Muhammad. Laki-laki ini menerimanya dengan senang hati, dan segera memerdekakannya. Dengan kepribadian dan fisiknya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididik oleh Khadijah dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti halnya anak sendiri.

Suatu ketika di musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal berjumpa dengan Zaid di Mekkah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Ayah Zaid menyusul menemui Muhammad.

Setelah bertemu dengan Muhammad, Haritsah berkata, "Wahai Ibnu Abdul Muththalib...! Wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada Anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?"

Tak saja merasakan benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, Muhammad juga merasakan pula seorang ayah terhadap anaknya, Zaid. Maka, kata Muhammad kepada Haritsah, "Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya, jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!"

Mendengar ucapan Muhammad demikian, wajah Haritsah berseri-seri karena tak disangkanya sama sekali keluar darinya kemurahan seperti itu, lalu ucapnya: "Benar-benar Anda telah menyadarkan kami dan Anda beri pula keinsyafan di balik kesadaran itu!" Kemudian Muhammad menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setiba di hadapannya, Rasul bertanya, "Tahukah Engkau siapa orang-orang ini?" "Ya, tahu," jawab Zaid." Yang ini ayahku, sedangkan yang seorang lagi adalah pamanku. Tapi, tak ada orang pilihanku, kecuali Anda (Muhammad)! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!"

Mendengar itu, kedua mata Muhammad basah karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dan dibawanya ke pekarangan Ka'bah, tempat orang-orang Quraisy banyak berkumpul, lalu serunya: "Saksikan oleh kalian semua bahwa mulai saat ini Zaid adalah anakku yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya."

Mendengar ucapan itu hati Haritsah seakan-akan berada diawang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malahan sekarang diangkat pula sebagai anak oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan "Ash-Shadiqul Amin" (orang lurus tepercaya), keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekkah seluruhnya. Sejak saat itu, Zaid terkenal di kalangan penduduk Mekkah dengan nama "Zaid bin Muhammad."

Tak berapa lama, seruan wahyu yang pertama pun datang kepada Muhammad, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan! Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq: 1-5). Menyusul kemudian wahyu dalam surat Al-Muddatsir: 1-3, dan Al-Maidah: 67.

Tidak tak lama setelah Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu tersebut, jadilah Zaid sebagai orang kedua yang masuk Islam, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang pertama. Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, serta terpelihara lidah dan tangannya.

Betapa mulia kedudukan Zaid di sisi Rasul, sampai-sampai Aisyah Ra pernah berkata, "Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya.

Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah." Begitulah Zaid, seorang anak yang pernah ditawan, diperjualbelikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya dan menjadi pembela utama Rasulullah. [Republika, 13 Desember 2002]